Surabaya – Persoalan narkoba di lingkungan pemasyarakatan kembali menjadi sorotan. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya di bawah Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Jawa Timur menggandeng Yayasan Omah Sehat Bersinar menggelar sosialisasi bahaya narkoba bagi warga binaan, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula M.D Arifin sejak pukul 08.00 WIB hingga siang hari itu diikuti sekitar 100 warga binaan. Sejumlah pemateri dari berbagai latar belakang hadir memberikan edukasi mulai dari aspek hukum, rehabilitasi, konseling adiksi, hingga penguatan psikologis.
Dari Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya hadir Lukman Hakim. Sementara Yayasan Omah Sehat Bersinar menghadirkan Rr. Adinda Dwi Inggardiah S.H., M.H., Kholisin Susanto S.H., konselor adiksi Alexander Tanadi, serta Saiful Bahri yang memberikan pendampingan melalui metode hipnoterapi.
Kepala Lapas Kelas I Surabaya, Sohibur Rachman, menegaskan bahwa edukasi bahaya narkoba harus terus dilakukan karena pola penyalahgunaan narkotika kini semakin berkembang.
Menurut dia, modus peredaran narkoba saat ini tidak lagi konvensional. Salah satu yang mulai marak adalah penyalahgunaan melalui rokok elektronik atau vape.
“Kehadiran pemerhati narkoba Omah Sehat Bersinar ini menjadi palang pintu untuk bersama-sama mengedukasi risiko bahaya penyalahgunaan narkoba. Apalagi sekarang trennya mulai berkembang, salah satunya dalam bentuk vape,” ujarnya.
Sohibur juga mengungkapkan tingginya jumlah warga binaan kasus narkotika di Lapas Kelas I Surabaya. Dalam tiga bulan terakhir, jumlah narapidana kasus narkoba melonjak tajam.
“Sebelumnya sekitar 800-an. Hari ini sudah mencapai lebih dari 1.100 warga binaan kasus narkoba,” katanya.
Menurutnya, peningkatan itu terjadi karena Lapas Kelas I Surabaya menjadi rujukan sejumlah UPT Pemasyarakatan di Jawa Timur.
“Yang lebih ngeri, 1.100 itu semuanya terjerat kasus narkoba,” imbuhnya.
Ia menilai persoalan narkoba tidak bisa ditangani hanya oleh aparat penegak hukum. Perlu keterlibatan keluarga, masyarakat, dan lembaga rehabilitasi agar para pengguna bisa benar-benar pulih.
“Penting membangun kesadaran diri untuk menjauhi narkoba serta membentuk pola hidup sehat dan positif. Untuk menciptakan itu perlu kolaborasi antar pihak,” tegasnya.
Ketua Yayasan Omah Sehat Bersinar, Farita Sari Dewianti, mengatakan pihaknya membuka layanan rehabilitasi rawat inap maupun rawat jalan, termasuk layanan konseling dan psikologi.
“Rehabilitasi Omah Sehat Bersinar melayani rawat inap maupun rawat jalan. Kami juga membuka layanan edukasi, konseling serta psikologi,” katanya.
Hingga Mei 2026, pihaknya telah menangani 13 pasien rehabilitasi rawat jalan. Seluruh pasien tersebut masih masuk kategori pengguna rekreasional atau belum dalam kondisi ketergantungan berat.
“Ke-13 pasien kami masuk kategori rekreasional, artinya belum terlalu parah sehingga masih memungkinkan dilakukan rawat jalan,” jelasnya.

Sementara itu, bagian Humas Edukasi dan Sosialisasi Omah Sehat Bersinar yang juga Ketua Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bahri, menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses pemulihan warga binaan.
Melalui metode hipnoterapi, Syaiful berupaya membangun kembali harapan dan kepercayaan diri para warga binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat setelah bebas nanti.
“Kami menekankan pentingnya arti keluarga. Karena pada akhirnya tempat mereka kembali adalah keluarga. Kami ingin mereka sehat secara mental, psikologis maupun fisik sehingga bisa kembali membangun kebahagiaan bersama keluarga,” ujarnya.
Menurut dia, keluarga menjadi faktor terpenting dalam membantu mantan pengguna narkoba bertahan menjalani kehidupan baru.
“Karena keluarga yang bisa membantu mereka pulih dan bertahan menjalani hidup,” pungkasnya.
