Juni 3, 2026
IMG-20260419-WA0024

SURABAYA – SD Taquma Wonocolo menggelar kegiatan istighotsah dan parenting bagi siswa kelas 6 bersama wali murid, Sabtu (18/4). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah itu menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mental siswa menjelang Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Mengusung tema “Istighotsah dan Parenting: Persiapan Mental serta Bijak Berteknologi”, agenda tersebut memadukan pendekatan spiritual dan edukasi psikologis. Sekolah, orang tua, dan siswa dilibatkan dalam satu forum kolaboratif guna memperkuat peran pendidikan bersama.

Kepala SD Taquma Wonocolo, Nur Rohmatul Izzah, mengatakan kegiatan ini merupakan agenda rutin yang digelar dua kali setiap semester. Menurutnya, sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan.

“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Kehadiran wali murid hari ini adalah bentuk komitmen bersama dalam mengawal masa depan anak-anak,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan istighotsah yang diikuti siswa dan orang tua secara khidmat. Tradisi tersebut diyakini mampu memberikan ketenangan batin, khususnya bagi siswa yang akan menghadapi ujian.

“Pendekatan spiritual penting agar anak lebih tenang dan percaya diri saat menghadapi TKA,” tambahnya.

Pada sesi parenting, sekolah menghadirkan Ketua Komite Nasional Perlindungan Anak Surabaya, Syaiful Bachri. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar siswa bukan pada tingkat kesulitan soal, melainkan rasa takut yang berlebihan.

“TKA tidak perlu ditakuti. Yang penting anak siap secara mental agar tidak down saat ujian,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi psikologis yang stabil akan membantu siswa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak, termasuk dalam mengawasi penggunaan gawai.

“Orang tua adalah guru pertama. Pendampingan di rumah sangat menentukan, termasuk dalam penggunaan teknologi agar tidak mengganggu konsentrasi belajar,” jelasnya.

Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi yang berlangsung haru. Para siswa bersimpuh memohon doa restu kepada orang tua sebagai bentuk dukungan menjelang ujian. Momen tersebut menjadi simbol penguatan ikatan emosional sekaligus penyemangat bagi siswa.

Sebagai penutup, dilakukan renungan bersama dan saling memaafkan. Sekolah menegaskan pentingnya sinergi empat pilar pendidikan—keluarga, pendidik, masyarakat, dan media sosial—dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *